Selasa, 05 Januari 2010

Uskup Williams, Syariah Islam di Inggris Tak Bisa Dihindari

Pimpinan Keuskupan Canterbury Dr. Rowan Williams tetap mempertahankan pendapatnya bahwa ada beberapa aspek dalam hukum syariah Islam yang selayaknya diadopsi oleh Inggris untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi warga Muslim.

Pada orang-orang yang mengkritiknya, Uskup Williams mengatakan bahwa mereka sudah salah memahami pernyataannya. Lagipula, tegas Uskup Williams, pernyataannya itu bukan pernyataan yang "asal bunyi" tapi sudah melalui riset yang matang.

"Keuskupan tidak menyarankan agar juridiksi hukum diparalelkan, tapi menyarankan agar dilakukan eksplorasi di mana akomodasi mungkin bisa diberikan dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan keagamaan, " tulis Uskup Williams di situs pribadinya.

Uskup Williams mengatakan bahwa Inggris sudah saatnya mengadopsi sejumlah hukum syariah, dalam dalam ceramah dan wawancara di radio BBC hari Kamis (7/2). Pernyataannya menuai kritik dari berbagai kalangan gereja di Inggris dan kritikan itu langsung dijawab oleh Uskup Williams di situs pribadinya pada Jumat (8/2).

Dalam situsnya antara lain dikatakan bahwa pernyataan Uskup Williams sudah melalui riset yang dalam dan konsultasi dengan sejumlah pakar hukum, khususnya pakar yang memiliki kapabilitas dan pengalaman tentang sistem hukum Islam dan Yahudi.

Namun tidak semua kalangan gereja menentang pernyataan Uskup Williams. Uskup Hulme Stephen Lowe adalah salah seorang membela Uskup Williams. Ia menilai cara sejumlah orang dan media yang mengecam Uskup Williams sungguh memalukan.

"Kita bisa jadi memiliki salah seorang yang paling hebat dari sekian banyak uskup di Keuskupan Canterbury. Dia (Williams) tak diragukan lagi salah seorang yang memiliki pemikiran yang paling mencerahkan di negeri ini, " kata Lowe seperti dikutip Guardian edisi hari ini, Sabtu (9/2).

Para pemuka warga Muslim di Inggris dengan hati-hati membenarkan pernyataan Williams bahwa sebagian orang sudah salah menafsirkan pernyataannya. Mereka menyatakan, perdebatan mengenai masalah ini sudah lepas kontrol karena mereka yang mengkritik tidak memahami bahwa yang dimaksud Williams adalah hukum syariah dari aspek sipilnya dan bukan pidananya.

Meski Uskup Williams sudah mengklarifikasi pernyataannya di situs pribadinya, namun kecaman dan kritik masih terus mengalir. Bahkan ada yang mengajak publik Inggris mendesak Williams agar mengundurkan diri sebagai pimpinan Keuskupan Canterbury. (ln/iol)
http://www.thebloghub.com/pages/Gema-Pembebasan-Wilayah-NTT

DARE TO FAIL

Dare To Fail
Gagal mah biasa, Yang luar biasa adalah bangkit,bangkit dan bangkit!

Sobat, kegagalan itu adalah awal dari kesuksesan, semakin sering kita gagal, maka semakin tahu kita cara memperoleh sukses karena mau belajar banyak dari kegagalan. Sebaliknya kalau kita takut gagal maka bisa jadi tidak berani mencoba maka pasti juga tidak akan pernah tahu cara memperoleh sukses. Jika kita mengalami kegagalan dalam suatu proyek ingatlah yang gagal hanya proyek itu bukan berarti kegagalan seluruh hidup kita. Bukankah ketika kita masih kecil belajar naik sepeda sering jatuh, begitu jatuh bangun lagi belajar naik sepeda lagi, jatuh, bangun lagi!, jatuh, bangun lagi! dan akhirnya kita bisa naik sepeda. Kegagalan itu hanya menyakitkan pada awalnya, tetapi setelah itu justru mengandung hikmah yang banyak. Kita akan tahu lebih banyak tentang bagaimana caranya memperoleh keberhasilan.

Sobat, ini bukan hanya retorika belaka. Tapi sudah banyak dibuktikan oleh para tokoh-tokoh dunia yang sukses di bidangnya masing-masing sebut aja misalnya, Rasulullah Muhammad Saw pantang menyerah untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap manusia, hawa nafsu dan dunia dengan hanya tunduk dan menghamba kepada Allah Swt , Thomas Alva Edison ketika menemukan bola lampu listrik ia telah melakukan ujicoba dan mengalami kegagalan 9999 kali dan dia tidak pernah menyerah, Nelson Mandela, Colonel Sander ketika mengawali bisnis di tolak 1009 kali tapi dia pantang menyerah kalau tidak ,KFC tidak akan menyebar di 7500 tempat di berbagai negara, Sylvester Stallone-Untuk memasarkan Rocky dia ditolak 1855 kali. Walt Disney mengajukan proposal “Disneyland” kepada bank-bank di Amerika Serikat ia ditolak sebanyak 302 kali. Sebelum menemukan elemen radium, penelitian Marie Curie gagal sebanyak 48 kali. “Sesungguhnya perlu 100 tahun lagi untuk menemukan elemen ini, dan selama saya masih hidup saya tidak akan menghentikan penyelidikan ini”.

Sobat, kesimpulan atau benang merah ketika kita membaca biografi orang-orang sukses mereka semua adalah orang-orang yang memiliki daya juang serta mental juara – pantang menyerah. Mengapa banyak orang gagal? Tidak ada tujuan hidup, tidak pernah mencatat tujuan, tidak bertanggung jawab atas tindakannya, banyak rencana tanpa tindakan, tidak yakin untuk sukses, malas, salah berteman, manejemen waktu lemah, kurang pengembangan diri, tidak ada komitmen untuk sukses, kurangnya hubungan antar manusia, udah bodoh sombong lagi!

Sobat, orang sukses diridhai Allah karena keimanannya,diridhai keluarga karena kasih sayangnya, diridhai manusia lain karena budi pekertinya, diridhai masyarakat karena jasa-jasanya.

Sobat, diantara akhlak orang yang sukses adalah selalu optimis, tidak pernah putus asa, berusaha memperbaiki kesalahan, mampu keluar dari krisis, dan bisa merubah kerugian menjadi keuntungan.
Sobat, Bagaimana kiat meniti jalan sukses itu?
1. Pahami hakekat diri
2. Buang believe yang salah dan kontraproduktif
3. Tingkatkan valensi diri, tetapkan arah dan tujuan.
4. Tancapkan doa, optimalkan ikhtiar, sertakan tawakkal.
5. Masuklah dalam lingkungan yang kondusif.
6. Bila belum dapati sukses, ingatlah HU=Hut + Te , Apa maksudnya Hasil usaha itu sama dengan hasil usaha yang tampak dijumlahkan dengan tabungan energi. Artinya kalau kita sudah mengeluarkan energi positif kapanpun, di mana pun kita berada maka kita ndak perlu kuatir. Kalaupun hasil usaha yang tampak sedikit maka yakinlah oleh Allah masih disimpan dalam bentuk tabungan energi positif dan bakalan cair pada saat yang tepat dan memang kita butuhkan.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa! Never Give Up! ( www.mentorplus.multiply.com atau www.fikrulmustanir.blogspot.com , N.Faqih Syarif H – Spiritual Motivator )

Senin, 04 Januari 2010

KHILAFAH AKAN KEMBALI!!!

“The militants believe that controlling one country will rally the Muslim masses, enabling them to overthrow all moderate governments in the region, and establish a radical Islamic empire that spans from Spain to Indonesia.“ ( Goerge W. Bush)

Syabab.Com
- Keruntuhan Uni Sovyet yang dikenal sebagai peristiwa bersejarah dan menunjukkan superioritas Kapitalisme terhadap Komunisme, adalah titik lahirnya babak baru dunia. Meskipun Komunisme sempat menarik simpati selama 70 tahun, ia runtuh dan kehilangan kepercayaan dari pengikutnya ketika kalah berlomba dalam persenjataan melawan Amerika Serikat (AS). Pemikir Barat seperti Francis Fukuyama menyatakan bahwa runtuhnya komunisme adalah akhir dan puncak dari perjalanan pemikiran manusia, yaitu Kapitalisme, yang terbukti mampu mengalahkan Komunisme sebagai satu-satunya penantang.

Tidak lama setelah peristiwa 911, Amerika Serikat memicu perang global terhadap terror. Ia pun segera menginvasi Afganistan dan Iraq. Namun dalam kurun waktu 5 tahun pendudukan AS terhadap dua negara tersebut, AS ternyata tidak mampu mengontrol stabilitas keamanan di sana. Padahal, sebelum jatuhnya komunisme, dunia Islam tidak dianggap sebagai tantangan yang berarti terhadap Kapitalisme. Akan tetapi, serangan terhadap Islam secara fisik maupun ideologis mulai meningkat tajam. Ironisnya, serangan dunia kapitalis (dimana rakyatnya sendiri sebetulnya juga mulai meragukan ideologi ini) justru mempercepat suatu proses perubahan yang akan mencapai titik puncak.

Dunia Muslim: Masa Lalu dan Kini

Semasa tergulingnya kekhilafahan yang berpusat di Turki pada tahun 1924, dunia muslim dijajah selama puluhan tahun. Inggris berhasil menyiasati bangsa Arab untuk memberontak terhadap Turki dengan bantuan keluarga Saud. Pemikiran intelektual yang menyerang Khilafah dan Islam, serta ketidakmampuan ulama Khilafah di Turki untuk menyikapi revolusi industri dan perkembangan jaman modern, membuat banyak kalangan muslim meragukan apakah Islam masih bisa diterapkan. Pandangan ini membidani lahirnya gerakan politik (seperti Turki Muda) yang pada akhirnya berhasil menghapus Islam itu sendiri. Sementara itu Afrika Utara masih diduduki penjajah selama ratusan tahun sejak jaman Napoleon. Gerakan Restorasi Khilafah yang penuh dengan pengorbanan pun sempat terjadi di India, tapi gagal menjadi pergerakan global.

Situasi saat itu dibentangkan oleh David Fromkin, Profesor dan ahli sejarah ekonomi University of Chicago dengan kata-katanya, “Massive amounts of the wealth of the old Ottoman Empire were now claimed by the victors. But one must remember that the Islamic empire had tried for centuries to conquer Christian Europe and the power brokers deciding the fate of those defeated people were naturally determined that these countries should never be able to organize and threaten Western interests again. With centuries of mercantilist experience, Britain and France created small, unstable states whose rulers needed their support to stay in power. The development and trade of these states were controlled and they were meant never again to be a threat to the West. These external powers then made contracts with their puppets to buy Arab resources cheaply, making the feudal elite enormously wealthy while leaving most citizens in poverty”[1]

“Kekayaan luarbiasa dari bekas Imperium Ottoman telah terampas oleh pemenang perang. Tapi jangan lupa, bahwa Imperium Islam berusaha selama berabad-abad untuk menundukkan Eropa (yang Kristen). Itu sebabnya para pemegang kekuasaan yang baru sudah selayaknya memastikan bahwa rakyat bekas Imperium Islam yang kini terkotak dalam berbagai negeri tidak boleh lagi bisa terorganisir kembali dan membuat ancaman terhadap kepentingan dan keamanan Eropa lagi. Sebagai aktor merkantilis, Inggris dan Perancis mengulang sejarah dengan membuat negeri-negeri boneka yang pemimpin-pemimpinnya selalu tergantung kepadanya untuk bisa mempertahankan kekuasaan. Kemajuan dan perdagangan negeri-negeri tersebut akan selalu dikontrol sehingga tidak akan pernah bisa bangkit dan menjelma menjadi ancaman yang berarti. Kekuatan asing membuat kontrak yang murah dengan penguasa boneka di tanah Arab, yang mengakibatkan timbulnya golongan feudal yang kaya raya dan golongan rakyat biasa yang terpuruk dalam kemiskinan.[1]”

Ketika dianalisa, negeri-negeri baru yang lahir dari serpihan Khilafah Uthmani adalah konstruksi artifisial yang tidak memiliki sistem yang konsisten dan terpadu (koheren). Kita cermati bahwa masyarakat muslim menjadi terpecah dalam menentukan nilai apa yang selayaknya menjadi dasar pembentukan masyarakatnya. Sebagian dari mereka tetap mengambil konsep Islam, sedang yang lain mengambil konsep Kapitalisme dan juga Nasionalisme. Malahan, masalah seperti kemiskinan, pengangguran, pembangunan, dan sengketa sosial laki-laki dan perempuan diselesaikan dengan kebudayaan setempat dan juga keputusan dari suku masing-masing. Itu sebabnya negeri-negeri boneka yang didirikan oleh bekas penjajahnya tidak akan mungkin maju, karena sumber pandangan hidupnya bermacam-macam dan tidak didasari oleh consensus yang disepakati bersama. Akhirnya, sumber daya alam dan manusianya pun tidak diatur dengan dasar dan langkah yang benar. Padahal tanpa dasar atau rujukan utama, negara tidak akan bergerak maju secara mantap ke depan.

Terlepas dari serangan dan tekanan kaum penjajah, umat muslim ternyata tidak begitu saja menerima kapitalisme sebagai dasar Negeri-negeri mereka. Hal ini terutama ketika ada aspek-aspek kapitalisme yang bertentangan secara gamblang terhadap aqidah Islam. Meskipun segala daya upaya Barat telah kerahkan untuk menyebarluaskan budaya asingnya di tanah muslim, seperti ide-ide kebebasan, umat islam tidak begitu saja menanggalkan sistem sosial yang berdasarkan Islam dan masih mempertahankan sentimen keislaman. Malahan secara keyakinan, umat islam masih mempertahankannya dan tidak mengadopsi akidah dialektika materialistis maupun akidah sekularisme. Maka bisa dinyatakan bahwa umumnya umat islam tidak meninggalkan pandangan hidupnya, meski pemahaman umat terhadap Islam itu sendiri juga masih bermasalah.

Di sisi lain, meskipun umat ini lemah dalam kemampuannya menggali konsep-konsep dan prinsip-prinsip Islam yang murni, umat islam umumnya rindu untuk hidup dibawah naungan Islam kembali. Ambil contoh, Turki, sebagai satu-satunya Negara yang menghapus Islam sama sekali dari konstitusinya. Mustafa Kemal Ataturk berusaha untuk menghancurkan Islam di Turki dan dia pikir rakyat Turki benci terhadap tradisi keislaman. Kenyataannya, hanya dalam kurun beberapa dekade saja, tekanan terhadap rezim Turki mulai menguat dan di tahun 1950, rezim tersebut mulai menggunakan sentimen keislaman untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Di tahun 1970, Turki memiliki politisi yang duduk di kabinet, Necmettin Erbakan, seorang individu yang sudah terkenal dengan latar belakang keislaman.

Selama 12 tahun terakhir, rakyat Turki memilih pemerintah yang ‘Pro Islam’ bukan cuma sekali, tapi justru dua kali. Ini membuktikan bahwa sentimen keIslaman masih membara di Turki. Tidak kurang Menteri Negara Amerika Madeleine Albright di tahun 1997 menyesalkan ‘kemunduran Turki dari sekularisme.’ Itu sebabnya dinas militer Turki selalu membersihkan jajarannya dari setiap individu yang memiliki pengaruh atau terpengaruh dengan semangat keIslaman. Jadi, rakyat Turki tidak pernah mengadopsi Kapitalisme, yang telah lama sekali mendominasi sistem politik Turki, dan justru sekarang bergerak menuju untuk kembali ke Islam – suatu fakta yang berbeda sejak 1924. Turki hanya baru satu dari banyak contoh lainnya. Pengaruh Islam di Aljazair sedemikian dahsyatnya hingga timbulnya kemenangan FIS. Demikian pula,karena cintanya dengan Islam, rakyat Afganistan mendirikan sistem Emirat, meski bukan Khilafah, yang didasarkan pada Islam.

Apa yang kita saksikan sekarang adalah reaksi muslim sebagai satu tubuh dalam menyikapi serangan yang menimpa saudara-saudaranya. Meskipun muslim di Palestina sendiri sedang terjajah, mereka tetap menyuarakan solidaritas mereka dengan kaum muslim lainnya di Afganistan dan Iraq. Muslim merasa muak dengan konsep ‘kebebasan berpendapat’, yang sering dikutip sebagai tameng dalam melawan Islam, sebagaimana terlihat dari penerbitan komik tentang Nabi Muhammad Saw di Eropa.

Pertanyaannya, kalau nilai-nilai yang didambakan umat Islam ini, berbeda dari nilai-nilai asing yang diterapkan padanya, mengapa umat ini terikat dengan nilai-nilai asing tersebut dan membiarkan para penguasanya menerapkan nilai-nilai asing itu juga? Jawabannya, para penguasa di negeri-negeri muslim tidak mendasarkan kekuasaan mereka pada hubungan yang dekat dengan rakyatnya, tetapi dengan kekejaman dan siksaan untuk mengontrol rakyatnya. Hal ini sudah sedemikian jelas dan sudah berjalan sekian lama tanpa perubahan.

Menjurangnya jarak antara Umat dengan Penguasanya

Kalau kita lihat sejarah dunia Muslim dan rezim yang menguasainya, kita bisa lihat tren yang menunjukkan naiknya ketegangan antara para penguasa dengan rakyatnya, dimana umat Islam memegang konsep dan sentimen yang berbeda dengan yang diambil dan diterapkan oleh para penguasa. Di Pakistan, Pervez Musharraf berusaha memperkenalkan budaya Barat dengan konsep ‘enlightened moderation’ (moderat yang tercerahkan), yang ternyata ditolak mentah-mentah. Kita juga lihat bagaimana Turki menolak kerjasama militer dengan AS yang di iming-imingi bantuan senilai 20 trilyun dolar menjelang pecahnya perang Teluk kedua, karena rakyat Turki melihat kerjasama tersebut akan digunakan untuk membunuh Muslim di Iraq. Kita juga lihat bagaimana usaha penguasa Muslim untuk menormalisasi hubungan dengan Israel selalu gagal.

Perbedaan jarak antara penguasa dan rakyatnya tidak terjadi satu abad yang lau, dimana Jamal Abdul Nasser (pemimpin Mesir di tahun 60an) didukung penuh oleh rakyatnya. Dia dianggap pahlawan Arab karena dia berani mengambil alih Kanal Suez dari Inggris dan melawan Israel. Rakyat muslim percaya bahwa Jamal Abdul Nasser mewakili mereka. Muslim juga menyanjung Yasser Arafat sebagai singa Islam, dan Arafat juga bisa memanipulasi ratusan ribu pemuda muslim untuk berjihad melawan penjajah Israel. Hingga akhir 1980an, rakyat muslim di negeri Teluk pun tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan penguasanya seperti Raja Fahd dan penguasa negeri Teluk lainnya, karena kesejahteraan minyak dan dukungan serta pengaruh ulama Saudi. Hal yang sama juga terlihat di belahan dunia muslim lainnya. Relasi antara para penguasa dan rakyatnya selalu lemah, dan rakyat menjadi apatis karena banyak sekali faktor. Kelemahan ini sempat tertutupi dengan nasionalisme Arabisme dan ide-ide asing seperti Ba’athisme dan Sosialisme. Di negeri-negeri Teluk, kesejahteraan ekonomi menutupi kesenjangan antara penguasa dan rakyat, yang mulai berakhir sejak jatuhnya Komunisme.

Dengan jatuhnya komunisme di tahun 1990, Islam menjadi fokus baru karena potensinya untuk menghadang kemajuan Kapitalisme. Bekas Sekjen NATO, Willie Claes menyatakan, “The Alliance has placed Islam as a target for its hostility in place of the Soviet Union.” (NATO menjadikan Islam sebagai target karena ia biang permusuhan di negeri-negeri bekas Uni Sovyet). Muslim bagaimanapun mampu membentengi diri mereka dari serangan budaya dan mempertahankan Din mereka. Pertentangan ini menyebabkan runtuhnya peradaban Barat di benak kaum muslimin.

Kini, kehancuran Peradaban Barat melahirkan perlawanan terhadap Islam. Amerika mulai menyadari bahwa penjajahan kultural sudah gagal dan sekarang membutuhkan pendudukan militer secara langsung. Paul Wolfowitz berkata dalam konferensi pers di Singapura, “It’s true that our war against terrorism is a war against evil people, but it is also ultimately a battle for ideals as well as a battle of minds.”[2] (Memang betul bahwa perang kami kobarkan melawan teror adalah perang melawan orang jahat, tetapi juga adalah perang gagasan dan perang pemikiran)

Karena umat muslim menolak pandangan Barat tentang kehidupan, umat secara alami tentu berharap untuk kembali ke penataan kehidupan secara Islam. Sementara itu para penguasa justru menolak dan menerapkan budaya dan agenda Barat, maka tidak heran kalau antara Penguasa dan Rakyat terjadi pertentangan sudut pandang yang sangat bertolak belakang.

Peristiwa yang terjadi 20 tahun terakhir mulai membuka kedok para penguasa dan menyatukan umat secara luarbiasa. Sebelum perang teluk, umat muslim tidak menyadari kebencian Amerika terhadap Islam. Para pemikir dan ulama di dunia muslim pun tidak menyadari pengkhianatan para penguasa dan tidak melihat Barat sebagai musuh. Namun sejak pecahnya perang Teluk yang pertama, sebagai alasan untuk melawan invasi Iraq terhadap Kuwait, kebencian Amerika dan pengkhianatan penguasa menjadi jelas terlihat. Rezim penguasa negeri Teluk kehilangan legitimasinya, ketika membiarkan tentara Amerika memasuki wilayah mereka dengan membangun pangkalan militer di Hijaz. Demikian pula ulama Saudi yang mendukung keberadaan tentara Amerika juga kehilangan legitimasi mereka. Muslim mulai melihat kesenjangan antara mereka dengan penguasa.

Sekarang kita bisa lihat bagaimana para penguasa muslim terperangkap secara politik: antara kepatuhan untuk melayani kepentingan Barat dan Amerika, dan ketakutan untuk dilucuti kekuasaannya oleh rakyatnya sendiri. Mereka tidak berani mengirim pasukan melawan Iraq karena sentimen rakyat; mereka menyetujui perang Teluk meski mendongkol; dan mereka selalu hidup dalam ketakutan terhadap perubahan. Muslim di seluruh dunia menolak usaha Amerika dan melihatnya sebagai permusuhan yang sudah selayaknya dilawan. Mereka juga melihat Penguasanya dengan kebencian dan tidak ingin diperintah lagi sebagaimana terlihat dengan Pervez Musharraf di Pakistan.

Awal dari kejatuhan para pengkhianat

Perilaku para penguasa pengkhianat mulai menunjukkan tanda-tanda untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Yasser Arafat memerintahkan penembakan terhadap rakyatnya sendiri ketika mereka mendukung Usama bin Laden melawan perang Amerika di Afganistan. Tentara Yordania menyeberang perbatasan dan membunuhi tentara Israel dalam fase Intifadah kedua. Hamid Karzai memaksa untuk menggunakan tentara Amerika sebagai satpam ketimbang menggunakan rakyatnya sendiri sehingga bisa lolos dari berbagai ancaman pembunuhan. Pervez Musharraf pun selalu memerintahkan untuk mengosongkan jalan sebelum dia melewatinya, karena khawatir akan dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Raja Abdullah dari Yordania memerintahkan kehancuran kota Ma’an karena penduduknya berani melawan pemerintah. Menteri Luar Negeri Mesir sempat dilempari sandal ketika ia memasuki masjid Al Aqsa di tahun 2005 seusai rapat dengan Israel. Dan jangan lupa, kita selalu melihat sandiwara OKI dan KTT Puncak Liga Arab, dimana para perwakilan negeri-negeri tersebut tampak ‘garang’ melawan Amerika agar rakyatnya menjadi gembira. Bahkan di tahun 2002 ada usaha kudeta yang dilakukan oleh perwira Pakistan dan Yaman, yang digagalkan oleh kedatangan tentara Amerika- suatu contoh yang tentu tidak suka didengar oleh para penguasa muslim.

Itu semua baru sedikit contoh yang menunjukkan mulai melemahnya kontrol kekuasaan yang dipegang para penguasa muslim. Maka para penguasa pun mulai menyadari bahwa mereka harus menerapkan apa yang rakyatnya dambakan, atau menghadapi perubahan. Ini pun juga disadari oleh Amerika dan Dunia.

Barat mempertahankan Ideologinya

Pengalaman sejarah Kapitalisme dalam mempertahankan eksistensi dan superioritasnya adalah dengan menetralisir pemikiran asing yang mengancamnya. Perang Dingin adalah contoh bagus. Pertahanan kapitalisme dilakukan dengan pembersihan politisi Amerika yang diduga merupakan simpatisan komunis yang dipimpin Senator McCarthy, propaganda anti komunis yang berlabel ‘red-scare’ (ancaman merah), dan persaingan penguasaan antariksa dan persenjataan. Inggris saat ini mempertahankan dirinya dengan memproduksi cerita bohong terhadap siapapun yang menentang ‘British Values’ (nilai-nilai Inggris) dengan melabelnya sebagai berbahaya, ekstrimis, radikal, fundamentalis, dan potensi teroris serta ancaman terhadap negara. Maka negara-negara Barat tidak segan untuk mentargetkan komunitas muslim rakyatnya dengan menyadap telpon, memonitor tingkah laku dan latar belakangnya, dan memenjarakan mereka meski hanya dengan dugaan bahkan ketika tidak terbukti melakukan kasus kriminalitas.

Perang Afganistan dan Iraq membuktikan kepada para pemikir bahwa Kapitalisme tidak mengakar di dunia Muslim, malahan cerita disambutnya serdadu AS oleh rakyat Iraq adalah cerita yang dibuat-buat oleh mesin propaganda AS sendiri. Maka bukan kebetulan apabila target utama ‘perang melawan teror’ adalah negeri-negeri dimana islam dipeluk oleh mayoritas penduduk dan menjadi dasar atas pemerintahan Islam masa depan, disamping itu juga merupakan wilayah yang kaya dengan sumber daya alam seperti gas dan minyak bumi.

Bukan juga suatu kebetulan, dimana dokumen Pentagon, Quadrennial Review terbitan tahun 2002 dan 2006, menjadikan muslim, negeri-negeri muslim, dan Islam dalam berbagai corak dan bentuknya adalah ancaman terhadap keamanan AS. Pejabat teras AS sendiri juga percaya bahwa ancaman ideologis terhadap supremasi Kapitalisme adalah ‘Islam yang terpolitisir’, dan AS serta sekutunya tidak bisa tinggal diam dan membiarkan umat muslim dunia merealisasikan tujuan politiknya dengan membangun Khilafah.

Maka, pembuat kebijakan politik senior seperti George W Bush ‘memperingatkan’ konsekuensi dari pembentukan kembali Khilafah. Bush dalam pidato kenegaraan bulan Oktober 2005 berkata, “The militants believe that controlling one country will rally the Muslim masses, enabling them to overthrow all moderate governments in the region, and establish a radical Islamic empire that spans from Spain to Indonesia.” (Kaum militan yakin bahwa dengan menguasai satu negara, ia mampu mengajak dan meraih dukungan seluruh umat muslim, menumbangkan rezim moderat, dan membentuk imperium radikal yang terbentang dari Spanyol hingga Indonesia).

Donald Rumsfeld, dalam invasi ke Iraq pun mengkonfirmasi, ”Iraq would serve as the base of a new Islamic Caliphate to extend throughout the Middle East and which would threaten the legitimate governments in Europe, Africa, and Asia. This is their plan. They have said so. We make a terrible mistake if we fail to listen and learn. It is for these reasons America has imposed a Viceroy of the Middle East because the Muslim rulers cannot be propped up by an outside force for much longer.” (Iraq akan menjadi pusat kekhilafahan Islam yang baru, yang akan menjadi ancaman terhadap pemerintahan yang sah di Eropa, Afrika dan Asia. Ini adalah rencana mereka. Mereka telah menyatakannya. Kita akan melakukan kesalahan fatal apabila kita gagal untuk gagal untuk belajar dan membuka kuping kita lebar-lebar. Inilah alasannya, Amerika telah menetapkan perwakilan tetap di Timur Tengah karena penguasa muslim sendiri tidak bisa didukung selamanya oleh kekuatan asing)

Umat Muslim kini siap untuk berubah, ia tolak pandangan Kapitalis, dan ingin hidup dibawah bendera Islam dalam lingkup negara dan masyarakat. Perasaannya telah menyatu dengan Islam dan terbukti ketika Barat menyerang Islam. Muslim di dunia tidak lagi melihat para penguasanya tidak lagi mewakili aspirasi mereka; bahkan jurang antara umat dan pemimpin semakin dalam. Kenyataan dan gejolak dunia yang terjadi sekarang, pada akhirnya akan mengarah pada perubahan kepemimpinan yang mewakili aspirasi umat itu sendiri. Fakta perubahan dan pengalaman sejarah mengatakan bahwa kita berdiri di ambang perubahan.

Apa yang memberikan motivasi kepada mereka yang akan menggerakkan terjadinya perubahan ini hingga rela bekerja secara ekstra keras, tidak lain adalah perasaan umat secara keseluruhan, dimana ia adalah sumber dukungan dan faktor penguat kepercayaan diri. Di dunia muslim, mereka adalah anggota jajaran angkatan bersenjatanya. Kita bisa lihat kudeta yang telah terjadi berkali-kali yang dipimpin oleh para perwira yang mendambakan perubahan. Pakistan, Qatar, Tunisia, Iraq, dan Afghanistan adalah contoh negeri-negeri yang para perwiranya dan tokoh-tokoh masyarakatnya yang berpengaruh telah mencoba untuk merubah kepemimpinan dalam waktu 12 tahun terakhir.

Berbagai cara dan usaha yang Barat tempuh untuk memecah belah Umat dan mereformasi Islam sehingga bisa menghentikan hembusan angin perubahan adalah bukti yang tidak terbantahkan di benak setiap muslim bahwa Kapitalisme sedang menguras seluruh daya dan upaya serta berjuang mati-matian mempertahankan dirinya. Di Barat, para politisi dan pemikir secara terbuka berani menghujat Islam; menyerang sisi politik dari Islam yang akan mengarah kepada sistem pemerintahan. Badan intelijen AS pun memperkirakan jangka waktu yang lama untuk menduduki dunia muslim dan menyiapkan mobilisasi kekuatan militer cepat tanggap (rapid mobile deployment forces). Tindakan dan rencana seperti ini menguatkan sinyalemen Nabi Muhammad saaw dalam hadith yang berbunyi:

“Ada kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada kekhalifahan berdasarkan tuntunan Nabi, maka dengan kehendak Allah, ia pun akan tetap ada, lalu Dia mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada penguasa yang zalim, maka dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian ada penguasa diktator, maka dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia pun mencabutnya, jika Dia berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada khilafah berdasarkan tuntunan Nabi. Lalu, beliau pun diam.” (Musnad Imam Ahmad (v/273)) [rusydan/kcom/syabab.com]

SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Telah terbukti bahwa sistem pendidikan yang materialistik telah gagal melahirkan manusia yang shaleh yang sekaligus menguasai iptek. Misalnya di Indonesia, secara formal kelembagaan, sekulerisasi pendidikan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departamen yang berbeda, yakni Depag dan Depkidbud.
Apa itu sekulerisme? Menurut Muhammad Qutb ( ancaman sekulerisme,1986) diartikan sebagai, Iqomatu al-hayati 'ala ghoyri asasina mina al-dini (membangun struktur kehidupan di atas landasan selain sistem Islam). Dan An-Nabhani mengartikan, "Pemisahan agama dengan kehidupan, ide ini menjadi aqidah (asas), sekaligus qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis) serta sebagai qaidah fikriyah (landasan berfikir)" (lihat:Nizhamul Islam Al Quds,1953) atas dasar berfikir ini, mereka berpendapat bahwa manusia sendirilah yang berhak membuat peraturan hidupnya, dan sesuai dengan hawa nafsu serta akalnya yang sangat terbatas itu.
Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tidak tersentuh oleh standar nilai agama. Pendidikan materialistik memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non-materi. Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi.
B. PERMASALAHAN
Realitas ini sepatutnya membuat umat mengurut dada, dan prihatin bukankah pendidikan adalah sokoguru pembangunan dan keberhasilan suatu umat?, bila anak-anak dan para pemuda tidak mendapatkan pendidikan yang layak, dapat dibayangkan generasi macam apa yang muncul di masa datang. Pertanyaan muncul apakah Islam mampu memberikan solusi bagi dunia pendidikan. Jika mampu, sistem pendidikan Islam yang bagaimana yang bisa menghasilkan manusia-manusia yang tidak saja berkualitas intelektualitas barat tetapi juga berakhlak sesuai dengan tuntunan di dalam Islam.

C. PEMBAHASAN
1. Pendidikan Menurut Islam
Pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan, fungsi sosial, sebagai bimbingan, sarana pertumbuhan yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup. Pernyataan ini setidaknya mengisyaratkan bahwa bagaimanapun sederhananya suatu komunitas manusia, memerlukan adanya pendidikan. Dalam konteks individu, pendidikan termasuk salah satu kebutuhan asasi manusia. Sebab, ia menjadi jalan yang lazim untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu. Sedangkan ilmu akan menjadi unsur utama penopang kehidupannya. Oleh karena itu, Islam tidak saja mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan memberi dorongan serta arahan agar dengan ilmu itu manusia dapat menemukan kebenaran hakiki dan mendayagunakan ilmunya di atas jalan kebenaran itu. Rasulullah Saw bersabda, “Tuntutlah oleh kalian akan ilmu pengetahuan, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah azza wa jalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh. Sesungguhnya ilmu itu akan menempatkan pemiliknya pada kedudukan tinggi lagi mulia. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat.” [HR. ar-RabĂ®’].
Makna hadits tersebut sejalan dengan firman Allah SWT: “Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu pengetahuan bertingkat derajat. Dan Allah Maha mengetahui terhadap apa yang kamu lakukan.” (Qs. al-Mujadalah:11).
Islam sebagai agama dan sekaligus sebagai sistem peradaban mengisyaratkan pentingnya pendidikan. Isyarat ini terjelaskan dari berbagai muatan dalam konsep ajarannya. Salah satu di antaranya melalui pendekatan terminologi. Secara derivatif islam itu sendiri, salah satu di antaranya yaitu kata sulam yang makna asalnya adalah tangga. Dalam kaitan dengan pendidikan, makna ini setara dengan makna peningkatan kualitas sumber daya insani (layaknya tangga meningkat naik).

2. Sistem Pendidikan Islam
Sistem pendidikan adalah satu rangkaian pemikiran dalam bidang pendidikan yang terorganisasi atau sistem pendidikan dapat disebut juga sebagai sekelompok dari unsur-unsur pendidikan yang saling berkaitan dan bekerja bersama-sama. Unsur-unsur pendidikan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: asas pendidikan, tujuan pendidikan, materi pendidikan, subjek pendidikan, objek pendidikan, metode pendidikan, media pendidikan, evaluasi pendidikan, dan lingkungan pendidikan. Untuk menjalankan sistem pendidikan yang baik dan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan maka unsur-unsur pendidikan yang tersebut di atas harus dapat saling berkaitan dan bekerja bersama.
a. Asas Pendidikan Islam
Asas pendidikan adalah aqidah Islam. Aqidah menjadi dasar kurikulum (mata ajaran dan metode pengajaran) yang diberlakukan oleh negara. Aqidah Islam berkonsekuensi ketaatan pada syari’at Islam. Ini berarti tujuan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syari’at Islam.
b. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (‘aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam.
c. Materi
Materi (atau bahan) pelajaran dirumuskan setelah tujuan pengajaran ditetapkan.
d. Subyek
Subjek atau pendidik hendaknya memenuhi persyaratan yang tersirat maupun tersurat dalam Alquran dan hadis. Hal ini penting karena pendidik membawa beban berat untuk membina para siswa agar tidak salah jalan di kemudian hari. Maka untuk memenuhi tujuan ini pendidik harus memperhatikan dirinya sendiri atau instropeksi terhadap dirinya sendiri. Guru yang ideal adalah guru yang dapat menempatkan dirinya sebagai seorang yang ‘digugu’ dan ‘ditiru’. Hal ini, berarti guru haruslah orang yang memiliki kepribadian, ia tidak hanya menguasai sejumlah pengetahuan tetapi juga berbagai sumber nilai-nilai kehidupan, yang bermanfaat bagi siswa. Guru juga harus dapat berinteraksi dengan masyarakat, ia mampu mengikuti perkembangan masyarakatnya.
e. Obyek
Yang dimaksud objek dalam sistem pembelajaran adalah peserta didik. Peserta didik merupakan sasaran dan sekaligus sebagai subjek pendidikan. Oleh sebab itu dalam memahami hakikat peserta didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum peserta didik. Setidaknya secara umum peserta didik memiliki lima ciri yaitu:
1. peserta didik sedang dalam keadaan berdaya, maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuan, Kemauan, dan sebagainya.
2. Mempunyai keinginan untuk berkembang ke arah dewasa.
3. Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda.
4. Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individu.
f. Metode
Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
g. Media
Media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan atau informasi yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. atau media pembelajaran dapat disebut juga sebagai sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran. dengan kata lain media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa, sehingga terjadi proses belajar.
I. Lingkungan
Sartain (seorang ahli psikologi Amerika) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan kita kecuali gen-gen. Dia membagi lingkungan menjadi tiga bagian sebagai berikut:
1. Lingkungan alam atau luar, lingkungan alam atau luar adalah segala sesuatu yang ada dalam dunia ini yang bukan manusia, seperti rumah, tumbuh tumbuhan, air, iklim dan hewan.Lingkungan dalam,
2. Lingkungan dalam adalah segala sesuatu yang telah termasuk ke dalam diri kita, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik kita
3. Lingkungan sosial, lingkungan sosial adalah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita
D. KESIMPULAN
Islam memposisikan pendidikan pada hukum wajib, jadi menyianyiakan dan mengabaikan pendidikan setiap manusia adalah kemungkaran, jadi jelasnya kemungkaran ini banyak diabaikan. Islam telah memberikan solusi praktis, tepat dan jelas.. Dengan Sistem Perndidikan Islam menjadikan hidup ini diliputi keberkahan dan kedamaian. Untuk menjalankan sistem pendidikan yang baik dan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan maka unsur-unsur pendidikan harus dapat saling berkaitan dan bekerja bersama yaitu meliputi asas pendidikan, tujuan pendidikan, materi pendidikan, subjek pendidikan, objek pendidikan, metode pendidikan, media pendidikan, evaluasi pendidikan, dan lingkungan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Dr Abdurrahman Saleh. TEORI-TEORI PENDIDIKAN BERDASARKAN ALQURAN. Jakarta: PT Rineka Cipta. 1994

An Nahlawi, Abdurrahman. PENDIDIKAN ANAK DI RUMAH, SEKOLAH DAN MASYARAKAT. Jakarta: Gama Insani Press. 1995

Hamalik, Prof Dr Oemar. PENDIDIKAN GURU BERDASARKAN PENDEKATAN KOMPETENSI. Jakarta: Bumi Aksara. 2004

Hamalik, Prof DrOemar.PERENCANAAN PENGAJARAN BERDASARKAN PENDEKATAN SISTEM. Jakarta: Bumi Aksara. 2003

Jalaluddin, Prof Dr H. TEOLOGI PENDIDIKAN. Jakarta: PT Raa Grafindo Persada. 2001

Purwanto MP, Drs M Ngalim. ILMU PENDIDIKAN TEORITIS DAN PRAKTIS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2003

Rohani HM MPd, Drs Ahmad. PENGELOLAAN PENGAJARAN. Jakarta: PT Rineka Cipta. 2004.

SEJARAH PENANGGALAN MASEHI

Ada yang kenal Julius Caesar (JC)? Dia bukan seorang anak yang lahirnya dengan bedah caesar।Itu sich sesar. Dia adalah pencetus pertama kalender masehi yang kita gunakan sekarang dan yang tahun barunya banyak dirayakan orang. Termasuk kita umat muslim.

Caesar berasal dari keluarga bangsawan lama, dia memperoleh pendidikan baik. Nggak seperti kebanyakan anak muda lain, JC nggak suka JJS di mall (karena emang nggak ada.hehehe). JC malah menceburkan diri ke dunia politik. Wah...beda banget ya sama kita yang menganggap kalau diajak bahas tentang politik alasannya pusing lah, capek lah, politik tu kotor, dan seabrek alasan lain. Berbagai jabatan politik pernah dipegangnya. Tahum 58 SM saat usianya 42 tahun JC ditunjuk jadi gubernur yang membawai 3 propinsi di bawah Roma. Di bawah komandonya saat itu ada 4 pasukan Romawi yang beranggotakan 20.000 tentara. Karya penting Caesar adalah penaklukan Gaul (ini bukan dia berubah jadi anak gaul. Gaul adalah daerah yang pernah ditaklukkannya dan tetap berada di bawah kekuasaan Romawi selama hampir 5 abad. Pada masa itu hukum, adat-istiadat, bahasa, dan segalanya diRomawikan. Karena selisih satu tahun antara kemenangan Caesar di Munda dengan terbunuhnya ia di sidang Senat di Roma, banyak rencana-rencananya yang tak sempat diterapkan. Yang paling besar pengaruhnya sampai saat ini adalah diperkenalkannya kalender Masehi. Perhitungan tahun yang sebelumnya berawal dari pengelompokan bintang-bintang tertentu yang disebut rasi atau konstelasi oleh Astrologi Babel kemudian mengalami berbagai perbaikan. Penanggalan rancangan JC ini kemudian dipakai secara internasional oleh kalangan Gereja yang kemudian AD (Anno Domini) yang artinya Tahun Tuhan Kita, terhitung sejak kelahiran Yesus Kristus. Sedangkan masa sebelum kelahiran Yesus dinamakan masa "sebelum Masehi". Semua peristiwa dunia sebelum lahirnya Yesus kemudian dihitung mundur alias minus. Dengan sebuah gagasan teologis bahwa Yesus sebagai penggenap dan pusat sejarah dunia maka tahun kelahiran Yesus dihitung sebagai tahun pertama. Perhitungan berdasarkan peredaran matahari ini sebelum menjadi sempurna seperti yang kita kenal sekarang ternyata mengalami sejarah cukup panjang. Sejak zaman Romawi, jauh sebelum pemerintahan Julius Caesar. Nama hari dan bulan yang dipakai dalam penanggalan Masehi erat kaitannya dengan nama dewa - dewi Romawi Kuno. Misalnya bulan Martius (sekarang Maret) mengambil nama Dewa Mars. Bulan Maius (sekarang Mei) mengambil nama Dewa Maia, dan bulan Junius (sekarang Juni) mengambil nama dewa Juno. Selebihnya adalah urutan nama bulan misalnya, September untuk bulan ke tujuh, October untuk bulan ke delapan dan December untuk bulan kesepuluh. Sedangkan Aprilis (sekarang April), diambil dari kata Aperiri, sebutan untuk cuaca yang nyaman di dalam musim semi. Sama dengan Februarius (sekarang Februari) diambil dari upacara ritual untuk menyambut kedatangan musim semi. Sementara Januarius (sekarang Januari) adalah nama dewa Janus. Dewa ini berwajah dua, menghadap ke depan dan ke belakang, hingga katanya dapat memandang masa lalu dan masa depan. Karenanya Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama. Sedangkan Agustus diambil untuk mengabadikan nama Kaisar Augustus yang ikut berperan dalam penyempurnaannya.

Waktu dalam Penanggalan Julian (Kalender Julius Caesar) ternytata memiliki kemelesetan, yaitu kala revolusi bumi yang semuladianggap 365,25 hari, ternyata tepatnya 365 hari, 5 jam, 56 menit kurang beberapa detik. Jadi ada kelebihan menghitung 4 menit setiap tahun yang makin lama makin banyak jumlahnya. Pada saat Julius Caesar berkuasa, kemelesetan bahkan mencapai 3 bulan dari standar yang seharusnya. Untuk meluruskan kemelesetan itu, Paus Gregorius XIII, pimpinan Gereja Katolik di Roma, pada tahun 1582 mengoreksi dan mengeluarkan keputusan bulat, yaitu memajukan hitungan hitungan penanggalan sebanyak 10 hari. Jadi pada saat itu setelah tanggal 4 Oktober, besoknya langsung tanggal 14 Oktober. Akibatnya orang – orang Eropa protes karena umurnya bertambah tua 10 hari secara nggak jelas (waduh??).

Ternyata Penanggalan Masehi yang dipakai secara internasional sekarang ini bukan perhitungan tahun Masehi (sebagai kelahiran Yesus) secara murni. Tapi perhitungan penanggalan berdasarkan Astrologi Romawi yang dikembangkan oleh astronom – astronom pagan (penyembah berhala). Oleh karena itu nama – nama bulan juga memakai nama dewi – dewi dan tokoh – tokoh pencetus penanggalan Kalender Masehi. So, kalau dipikir – pikir sebenernya orang – orang yang ngerayain Tahun Baru itu ngerayain apa, ya???

Minggu, 03 Januari 2010

SEJARAH PENANGGALAN MASEHI

Ada yang kenal Julius Caesar? Dia bukan seorang anak yang lahirnya dengan bedah caesar।Itu sich sesar. Dia adalah pencetus pertama kalender masehi yang kita gunakan sekarang dan yang tahun barunya banyak dirayakan orang. Termasuk kita umat muslim. Caesar berasal dari keluarga bangsawan lama, dia memperoleh pendidikan baik. Nggak seperti kebanyakan anak muda lain, JC nggak suka JJS di mall (karena emang nggak ada.hehehe). JC malah menceburkan diri ke dunia politik. Wah...beda banget ya sama kita yang menganggap kalau diajak bahas tentang politik alasannya pusing lah, capek lah, politik tu kotor, dan seabrek alasan lain. Berbagai jabatan politik pernah dipegangnya. Tahum 58 SM saat usianya 42 tahun JC ditunjuk jadi gubernur yang membawai 3 propinsi di bawah Roma. Di bawah komandonya saat itu ada 4 pasukan Romawi yang beranggotakan 20.000 tentara. Karya penting Caesar adalah penaklukan Gaul (ini bukan dia berubah jadi anak gaul. Gaul adalah daerah yang pernah ditaklukkannya dan tetap berada di bawah kekuasaan Romawi selama hampir 5 abad. Pada masa itu hukum, adat-istiadat, bahasa, dan segalanya diRomawikan. Karena selisih satu tahun antara kemenangan Caesar di Munda dengan terbunuhnya ia di sidang Senat di Roma, banyak rencana-rencananya yang tak sempat diterapkan. Yang paling besar pengaruhnya sampai saat ini adalah diperkenalkannya kalender Masehi. Perhitungan tahun yang sebelumnya berawal dari pengelompokan bintang-bintang tertentu yang disebut rasi atau konstelasi oleh Astrologi Babel kemudian mengalami berbagai perbaikan. Penanggalan rancangan JC ini kemudian dipakai secara internasional oleh kalangan Gereja yang kemudian AD (Anno Domini) yang artinya Tahun Tuhan Kita, terhitung sejak kelahiran Yesus Kristus. Sedangkan masa sebelum kelahiran Yesus dinamakan masa "sebelum Masehi". Semua peristiwa dunia sebelum lahirnya Yesus kemudian dihitung mundur alias minus. Dengan sebuah gagasan teologis bahwa Yesus sebagai penggenap dan pusat sejarah dunia maka tahun kelahiran Yesus dihitung sebagai tahun pertama. Perhitungan berdasarkan peredaran matahari ini sebelum menjadi sempurna seperti yang kita kenal sekarang ternyata mengalami sejarah cukup panjang. Sejak zaman Romawi, jauh sebelum pemerintahan Julius Caesar. Nama hari dan bulan yang dipakai dalam penanggalan Masehi erat kaitannya dengan nama dewa - dewi Romawi Kuno. Misalnya bulan Martius (sekarang Maret) mengambil nama Dewa Mars. Bulan Maius (sekarang Mei) mengambil nama Dewa Maia, dan bulan Junius (sekarang Juni) mengambil nama dewa Juno.

Jumat, 01 Januari 2010